Fungsi Hadist Sebagai Sumber Hukum Islam

Tulisan ini hadir atas permintaan sebagian sahabat saya. Sebelumnya saya menolak untuk menulis tentang ini, karena masih banyak guru-guru hebat yang pantas menulis tentang ini. Tapi mengingat kepada wajibnya menyampaikan ilmu yang pada hakikatnya ilmu tidak boleh ditutup-tutup, maka saya mencoba untuk meneliti permasalahan ini sesuai dengan kuantitas ilmu yang sudah diberikan Allah SWT pada saya.

Ijmak ulama bahwa sanya hadist merupakan sumber hukum ke dua dalam Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surat An-Nisa' ayat: 59, berdasarkan hadist Rasulullah SWT pada haji wada' , "Aku tinggalkan untukmu dua perkara, yang apabila engkau berpegang teguh pada keduanya tidak akan sesat untuk selamanya, yaitu Alquran dan hadist," serta ijmak sahabat tentang wajibnya mengikuti serta mengamalkan sunnah Nabi SWT.

Adapun fungsi hadist sebagai sumber hukum Islam ada tiga, yaitu sebagai penguat bagi apa yang sudah tertera dalam Alquarn (muakkadah), sebagai penafsir bagi ayat-ayat Alquarn (mubayyinah), dan mendatangkan hukum-hukum yang tidak tercantum dalam Alquran.

1. penguat (Muakkadah)

            Yaitu menguatkan bagi sesuatu yang sudah tertera dalam Alquran.            Alquran sebagai penetap (musbit) sedangkan hadist sebagi penguat     (muayyad). Seperti hadist yang menerangkan wajib puasa, wajib   shalat, wajib zakat, wajib haji. Dan hadist yang melarang untuk             mempersekutukan Allah SWT, saksi palsu, membunuh tanpa hak, larangan memakan harta orang lain tanpa izin, dan lain sebagainya.

            Semua masalah ini sudah pernah disinggung dalam Alquran sebelum       Rasulullah mengatakannya. Seperti firman Allah dalam surat Al- Baqarah ayat 43 yang mengatakan wajib menunaikan zakat dan        mengerjakan shalat. Surat Al-Baqarah ayat 183 yang mengatakan     wajibnya puasa, dan lain sebagainya.

2. Penafsir (mubayyinah)

kedudukan hadist dalam menafsirkan  ayat-ayat Alquran ini ada tiga macam:

            a.Menjelaskan yang mujmal dari Alquran

            Seperti ayat yang mewajibkan shalat, 'Aqimus shalah' (dirikan shalat),        ayat ini masih mujmal. Ayat ini masih mujmal pada bilangan shalat     yang difarzukan, rukun serta rakaatnya. Maka datanglah hadist untuk             menjelaskan yang mujmal tersebut, "Shalatlah seperti kalian lihat aku        shalat."

            Diwajibkan zakat, "Wa atuz zakah" (tunaikan zakat), ayat ini masih             mujmal berapa kadar zakat yang harus dikeluarkan, harta apa saja     yang wajib zakat dan yang tidak diwajibkan zakat. Maka hadistlah        yang menentukan kadar serta jenis harta yang dikenakan zakat.

            b.Mengkhususkan yang umum dari Alquran

            Jika ada ayat-ayat Alquran yang masih umum maka datanglah hadist         untuk mengkhususkan ayat tersebut. Seperti firman Allah SWT dalam             surat An-Nisak ayat 11 yang mengatakan anak kandung akan           menerima warisan dari ibuk bapaknya. Ayat ini masih umum, yaitu           semua anak akan mendapat harta warisan. Maka datanglah hadist   untuk mengkhususkan, yang bahwa pembunuh (anak yang        membunuh ayah/ibunya) tidak mendapat warisan. Karena terhijab             dengan           hijab hirman.

            c.Memberi batasan (qayyid) bagi ayat Alquran yang mutlak.

            Seperti perintah Allah SWT untuk memotong tangan pencuri. Perintah       memotong dalam ayat ini tidak ditentukan batas potongnya dari mana           dan sampai kemana, tata tertib pemotongan. Maka hadistlah yang          menetukan hal tersebut,     yaitu dari pergelangan tangan, dan          dipotong tangan kanan pada kali yang pertama. Jika ia mencuri lagi      maka potonglah tangan kirinya.

3. Mendatangkan hukum-hukum yang tidak tercantum dalam Alquran.

            Hal ini tidak menunjukkan Alquran itu terdapat kekurangan. Karena         pada hakikatnya hadist Nabi juga digolongkan kedalam firman Allah, sebagaimana yang sudah termaktub dalam Alquran," Dan tidaklah             yang dikatakan Muhammad itu menurut keinginannya melainkan wahyu yang diwahyukan kepadannya."

            Diantara hukum-hukum yang tidak tercantum dalam Alquran dan sudah didatangkan oleh hadist adalah:

            a.Haram berkumpul antara perempuan dengan pamannya dan haram        berkumpul antara wanita dengan bibiknya.

            b.Perintah merajam zina muhksan (laki-laki yang sudah ada istri     sendiri atau perempuan yang sudah ada suami sendiri tapi berzina      dengan orang lain). Hukum ini tidak tercantum dalam Alquran,             namun hadistlah yang mendatangkannya. Seperti merajam Ma'izan            dan Ngamadiyah oleh Rasullah zamna dahulu.

            c. Warisan terhadap nenek, hal ini tidak tercantum dalam Alquran.             Maka hadistlah yang menentukannya, yaitu dalam warisan nenek     mendapat 1/6 dari harta warisan.

            d.Zakat fitrah, tidak ada satu pun dari ayat Alquran yang memerintahkan kepada kita untuk mengeluarkan zakat fitrah. Maka rasulullah lah yang menyuruhnya. Beliau bersabda dalam hadist yang diriwaytakan oleh Ibn Umar," Rasullah SWA mewajibkan zakat fitrah."

 Wallahu 'Alam Bis Sawab

Sumber: Tarihk Tasyrik Islami karya Dr Risyad Hasan Khalil, Usul Fiq Muyassar karya Dr Abdul Hayyi 'Azab Abdul 'Ali



          



          

          


Categories:

2 Responses so far.

  1. terima kasih artikelnya.

    bisnis online terbaru, mantap, klik www.kiostiket.com

  2. ar hamz says:

    aSsalamualikum,,, izin share,,, :D

Leave a Reply